The Patterns of Meta Model
Daftar Isi
Dalam sesi coaching, seorang NLP Coach akan benar-benar memerhatikan pemilihan kata yang klien gunakan termasuk caranya mengungkapkan pemikirannya, baik melalui perkataan atau pun bahasa tubuh, disinilah Coach bisa lebih dalam memasuki dan memahami world model klien yang menjadikan klien berada di kondisi kehidupannya masa kini.
Catatan: bahasan lebih mendalam tentang world model dalam NLP bisa Anda temukan di artikel ‘Terbentuknya World Model Dalam NLP‘.
Kata ‘Linguistic’ dalam singkatan Neuro-Linguistic Programming bukan ada tanpa sebab, karena memang pemilihan kata-kata yang digunakan seseorang, baik secara terucap atau pun tidak terucap dan hanya dalam bentuk dialog internal (self talk). akan menunjukkan lapisan yang lebih dalam di dalam world model-nya, yaitu keyakinan.
Sebagaimana layaknya ‘sugesti’, ucapan atau self talk ini kemudian semakin memperkuat keyakinan yang ada di dalam world model, terjadilah sebuah siklus dimana keyakinan melahirkan ucapan dan ucapan semakin memperkuat keyakinan.
Itulah mengapa dalam sesi coaching kepekaaan seorang Coach untuk mengidentifikasi pemilihan kata dan kalimat klien akan sangat membantu dalam mengenali model dunia klien, untuk bisa mengenali potensi dan hambatan yang tersimpan di dalamnya.
Sering kali kebiasaan seseorang untuk berbicara, baik di dalam benaknya atau pun dalam bentuk ucapan langsung, hanyalah kebiasaan semata, namun jika tidak diwaspadai kebiasaan ini juga bisa menjadi sesuatu yang menjebak.
NLP termasuk keilmuan yang memfokuskan perhatian pada cara seseorang menggunakan pilihan kata, karena dari sinilah pintu masuk untuk mengenali internal representation seseorang dimulai yang akan menjawab banyak hal tentang perilaku dan pemikiran seseorang.
Bukan hanya ketika menyerap informasi, namun juga ketika seseorang memproses informasi dan mengungkapkannya lagi dalam bentuk ucapan terjadilah lagi proses internal processing filter.
Artinya, yang kita yakini atau pun yang kita ucapkan bukanlah sebagaimana adanya kenyataan di luar diri kita, melainkan hasil akhir setelah terjadi penghapusan (deletion), misinterpretasi (distortion) dan penyamarataan (generalization).
Kita tidak membicarakan benar atau salahnya keyakinan di internal representation ini, melainkan menganalisa pengaruh dari kebiasaan-kebiasaan otomatis ini pada diri kita, apakah world model dan respon yang terbentuk dari kebiasaan ini poduktif ataukah malah menghambat.
META MODEL
Dalam NLP, studi yang mengulas cara seseorang mengungkapkan informasi dan model dunia dalam dirinya disebut Meta Model. Dengan menggunakan prinsip dari Meta Model, kita belajar menggali informasi yang diungkapkan di level permukaan (surface structure) dan kemudian memperdalamnya sampai ke level yang lebih dalam (deep structure) agar bisa mengenali detail dari pengalaman (experience) yang sebenarnya.
Bahasan tentang Meta Model pertama kali diulas dalam buku The Structure of Magic karangan Richard Bandler dan John Grinder, dituliskan sebagai berikut:
“While the techniques of these wizards are different, they share one thing: they introduce changes in their client’s model which allow their clients more options in their behavior. What we see is that each of these wizards has a map or model for changing their client’s model of the world, i.e. a META MODEL which allows them to effectively expand and enrich their clients model in some way that makes the clients live richer and more worth living.”
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat di atas kurang lebih bermakna:
“Meskipun teknik-teknik dari para ‘penyihir’ ini berbeda, mereka memiliki satu kesamaan: mereka memfasilitasi perubahan dalam model dunia klien mereka, yang memungkinkan para klien mereka pada akhirnya memiliki lebih banyak pilihan. Yang kami sadari adalah para ‘penyihir’ ini memiliki peta atau model tersendiri untuk mengubah model dunia para kliennya, yang disebut META MODEL, yang membuat mereka secara efektif dapat memperluas dan memperkaya model dunia para klien mereka, sehingga membuat mereka bisa menjalani hidup yang lebih baik dan bernilai.”
Yang dimaksud ‘penyihir’ dalam tulisan di atas adalah para terapis dan konselor yang diteliti oleh Richard Bandler dan John Grinder, salah satunya yaitu Virginia Satir, seorang terapis keluarga, dimana dengan kekuatan dari pertanyaan-pertanyaannya ia bisa memfasilitasi perubahan cara berpikir dalam diri kliennya yang membuat mereka lebih memahami dirinya, mengevaluasi keyakinannya sendiri dan lebih memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan-pilihan perubahannya.
Kala itu para terapis kenamaan yang mereka model disebut sebagai ‘penyihir’ karena seolah bisa ‘menyihir’ perilaku seseorang yang awalnya sulit berubah menjadi lebih mudah untuk berubah.
Dalam buku The Ultimate Introduction to NLP karangan Richard Bandler, Alessio Roberti dan Owen Fitzpatrick, diulas bahwa manfaat utama Meta Model adalah untuk:
- Memperjelas informasi
- Mengklarifikasi informasi
- Membuka model dunia seseorang
Sebagaimana diungkapkan di bagian sebelumnya, ketika seseorang menyampaikan informasi, sebenarnya informasi ini belumlah mencerminkan model dunianya, sering kali ada informasi yang hilang karena cara kerja internal processing filter, sehingga apa yang terjadi dengan makna yang ditafsirkan bisa jadi berbeda.
Memahami world model adalah kunci utama dari merumuskan aksi perubahan karena di dalamnya berisikan keyakinan. Untuk bisa memahami lebih detail world model maka kita perlu memahami rangkaian cara untuk menggali informasi yang disampaikan sampai ke strukturnya yang terdalam (deep structure) untuk kemudian memahami apa yang ada di dalamnya, bagaimana itu terbentuk dan konsekwensinya pada diri kita.
Karena pada dasarnya apa yang disampaikan seseorang adalah sesuai keterbatasannya dalam mengartikan yang ada di dalam world model-nya – namun hal ini juga memperkuat world model-nya – maka yang kita lakukan adalah menggali informasi itu dari permukaan (surface structure) sampai ke deep structure-nya agar semakin memahami apa yang tersimpan di dalamnya dan kemungkinan apa yang belum terungkap, yaitu dengan ‘mengupas’ deletion, distortion dan generalization yang terjadi.
Mempelajari Meta Model akan mengajak kita mengevaluasi ragam kalimat dan pernyataan, karena dengan mengevaluasi seni linguistik inilah kita bisa mengidentifikasi lebih jauh skema world model seseorang dan kemungkinan apa yang mendorongnya berada di kondisinya saat ini dengan segala respon dan aksinya.
Pola penelusuran Meta Model terbagi atas tiga pola dasar dengan mengikuti cara kerja internal processing filter, yaitu:
- Deletion: mengungkap ada informasi atau kemungkinan apa saja yang hilang/terhapus dalam world model sehingga seseorang berada di kondisinya saat ini.
- Distortion: mengungkap ada misinterpretasi apa saja yang terjadi dalam world model seseorang.
- Generalization: mengungkap ada generalisasi apa saja yang terjadi dalam world model
Di bahasan berikut ini kita akan mengulas lebih lanjut pola-pola tersebut dengan lebih mendetail dengan berbagai contoh kalimat yang dilontarkan seseorang dalam pembicaraan.
THE PATTERNS OF META MODEL – DELETION
Simple Deletion
Merupakan pernyataan dengan informasi yang hilang/tidak lengkap, sehingga ada detail yang tidak bisa kita pahami optimal. Biasanya kalimat yang mewakili simple deletion dinyatakan dengan kata ganti ‘ini’, ‘itu’ dan sejenisnya yang melambangkan kata ganti orang/benda.
Sebut saja seorang yang menceritakan kesedihannya akibat perlakuan teman-temannya dan musibah yang baru saja dialaminya. Ia lalu mengungkapkannya dengan pernyataan: “Hal itu sangat mengganggu saya.”
Disini kita perlu memastikan yang manakah ‘hal itu’ yang dimaksudkan, apakah ‘perlakuan teman-temannya’ ataukah ‘musibah yang dialaminya’. Mengiyakan begitu saja informasi ini tanpa mengklarifikasinya lebih jauh akan menciptakan ketidakjelasan dalam pikiran tentang masalah yang mengganggu, bisa jadi malah keduanya dipukul rata sama-sama mengganggu, memperparah apa yang tidak seharusnya menjadi masalah besar.
Disinilah kita ‘memulihkan’ informasi yang hilang dengan pertanyaan untuk mendapatkan lebih banyak kejelasan, seperti: “Lebih spesifiknya, apa atau kejadian yang mana yang dianggap sebagai gangguan itu?”
Sebagai tambahan bagi para Coach, kecakapan linguistik sangatlah penting dalam sesi coaching, perhatikan bahwa kalimat di atas bukan berbunyi “Kejadian mana yang mengganggu kamu?” Melainkan “Kejadian mana yang kamu anggap sebagai gangguan?”
Keduanya sangatlah berbeda, di pertanyaan pertama saya sebagai Coach seolah memberikan persetujuan bahwa hal itu memang mengganggu klien, di pertanyaan kedua saya menyatakan kejelasan bahwa klienlah yang menganggap hal itu sebagai gangguan, artinya bukan kejadian di luar yang menjadi masalah melainkan world model klien yang menganggap itu sebagai masalah.
Comparative Deletion
Pernyataan yang tidak ada standar pembandingnya, sehingga derajat penilaiannya menjadi subjektif dan bisa saja membuat seseorang merasa sedemikian larut dalam state tidak efektif yang dialaminya. Bahasan ini juga kembali menegaskan pentingnya kekuatan dari linguistik atau kalimat yang digunakan seseorang karena hal itu mempengaruhi persepsinya dan kemudian mempengaruhi state-nya.
Catatan: bahasan tentang state bisa Anda temukan di artikel ‘State, Faktor Penentu Perilaku Dalam NLP‘.
Kalimat comparative deletion biasanya diwakilkan dengan kata-kata yang menyiratkan kondisi tertentu namun tidak terukur, seperti ‘kurang’, ‘sangat’, ‘lebih’ dan sejenisnya.
Misalnya saja seseorang yang berkata “Saya merasa lebih buruk hari ini.” Kita sendiri tidak tahu seperti apa ‘lebih buruk’ yang dimaksudkan dalam kalimat ini, lebih buruk dari kapan? Bahkan kita sendiri mungkin tidak mengetahuinya, namun efek dari kalimat ini bisa membuatnya terjebak dalam state yang tidak efektif yang bermula dari penggunaan kalimat yang tidak representatif.
Disini kita bisa mengklarifikasi dengan pertanyaan: “Lebih buruk ini seperti apa? Tolak ukur lebih buruknya kalau dibandingkan dengan kejadian apa?” Meski sederhana, pertanyaan ini bisa memutus pola (pattern interrupt) tidak efektif yang memenjarakan dan mengajak kita mengevaluasi ulang kondisi yang sedang dialami untuk bisa mengadaptasi keyakinan dan pernyataan baru.
Lack of Referential Index
Pernyataan yang tidak jelas sumber referensi informasinya, sehingga seolah menjadi sebuah kebenaran jika tidak dipertanyakan lebih jauh, biasanya berhubungan dengan keyakinan yang asal-muasalnya tidak jelas dan sering ditunjukkan dengan kata ganti orang, menunjuk keberadaan pihak-pihak atau referensi tertentu, misalnya: “Banyak orang bilang saya tidak berbakat.”
Sekali lagi, opini tentang ‘banyak orang’ ini bisa memenjarakan dan membuat seseorang meyakini itu sebagai sebuah kebenaran. Kita bisa coba mengklarifikasinya dengan pertanyaan “Siapa saja ‘banyak orang’ yang dimaksud? Ada berapa orang? Mari kita hitung sama-sama.” Bahkan Anda pun bisa membayangkan dampak logis dari pertanyaan ini bukan?
Unspecified Verb
Pernyataan berbasis kata kerja, namun kata kerja ini tidak menjelaskan proses sebenarnya, biasa dinyatakan dalam satu kata kerja yang asumtif dan membuat pendengarnya bisa menafsirkan dengan versinya tersendiri karena bukan diceritakan dalam bentuk kisah, melainkan pernyataan.
Contohnya pada kalimat: “Ia menyakiti saja.”
Satu kalimat ‘menyakiti’ ini jika disuarakan dengan tanpa berpikir rasional akan bernada provokasi yang membuat seseorang mengiyakan dan bisa jadi malah memperkeruh suasana.
Dengan Meta Model kita bisa membedah kalimat ini dengan pertanyaan: “Menyakiti? Seperti apa jelasnya yang dimaksudkan dengan ‘menyakiti’? Ceritakan kejadiannya.” Menariknya, ketika kejadian aslinya diceritakan secara lengkap bisa jadi akan berbeda penafsirannya. Bisa saja kata ‘menyakiti’ ini adalah sekedar ungkapan, namun efek dari kalimat ini membuat kita lama-lama meyakini bahwa orang itu memang menyakiti kita, kitalah yang menciptakan drama kesakitan itu sendiri dalam world model kita.
THE PATTERNS OF META MODEL – GENERALIZATION
Universal Quantifiers
Pernyataan yang menggeneralisir, seolah suatu hal yang sedang disampaikan terjadi sepanjang waktu atau dilakukan oleh semua orang. Singkatnya, Anda mungkin familiar dengan kalimat-kalimat:
“Orang tua saya tidak pernah mendengarkan saya.”
“Dia selalu saja begitu.”
“Semua orang membenci saya.”
Anda tentu sudah bisa menebak ragam kalimat yang bisa digunakan untuk membedah kalimat tersebut:
“Tidak pernah mendengarkan? Sama sekali tidak pernah mendengarkan sepanjang hidup?”
“Dia selalu begitu? Selama kamu mengenalnya dia selalu begitu? Tidak pernah sekali pun dia tidak berlaku begitu?”
“Semua orang membenci? Jadi tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak membenci, apakah begitu?”
Bukan sekedar mengklarifikasi, kita justru bisa ‘menantang’ universal quantifier ini dengan ‘melebih-lebihkannya’, biasanya respon yang muncul adalah “Yah…tidak begitu juga sih.”
Modal Operator of Necessity/Possibility
Pernyataan yang seolah meniadakan kemungkinan lain sehingga sesuatu hal menjadi begitu dibutuhkan atau diharuskan. Biasanya muncul dan menyiratkan sesuatu yang seperti ‘membebani’ karena dilakukan sebagai keharusan dan bukan kerelaan, sering kali juga melambangkan tuntutan kita yang harus dipenuhi oleh dunia luar, meski ada kalanya tidak rasional.
Misalnya pada contoh kalimat:
“Mereka harusnya memahami saya.”
“Saya harus melakukan ini…”
Amati dua kalimat di atas, nyata sekali bahwa ada lapisan makna-makna lain di dalamnya yang membuat pernyataan itu mengandung derajat kepentingan tertentu, yang seolah tersirat sebagai beban.
Kita bisa mengklarifikasi kalimat ini dengan pertanyaan “Memang kenapa harus? Kalau tidak, memang kenapa?”
Nominalization
Pernyataan yang membekukan sebuah proses menjadi seolah seperti kata benda. Misalnya:
“Ketidakpeduliannya mengganggu saya.”
“Tidak ada komunikasi di antara kami.”
‘Tidak peduli’ adalah kata kerja, tapi ketika dirubah susunannya menjadi ‘ketidakpedulian’, maka seolah berubah menjadi kata benda. Ada proses atau aktivitas yang hilang dan diwakilkan oleh satu kata yang dianggap bisa mewakilinya.
Yang bisa kita lakukan dengan Nominalization adalah mengubah ulang strukturnya agar kembali menjadi kata aktivitas atau kata kerja, yaitu dengan mempertanyakan yang dimaksud sebagai kata benda tadi dan mengurainya menjadi sebuah proses atau aktivitas.
Misalnya:
“Boleh ceritakan yang dimaksud ‘ketidakpedulian’ itu seperti apa tepatnya? Berikan contoh sederhana saja.”
“Boleh diceritakan yang dimaksud ‘tidak ada komunikasi’ itu seperti apa contoh kejadiannya?”
THE PATTERNS OF META MODEL – DISTORTION
Presuppositions
Pernyataan yang menyatakan sesuatu hal sebagai sebuah kesimpulan yang pasti tanpa alasan yang jelas, kita mengenalnya sebagai asumsi. Biasanya dimunculkan dalam kalimat yang menyiratkan kepastian, seperti:
“Mereka pasti membenci saya.”
“Dia pasti merencanakan sesuatu yang buruk.”
Kalimat ini bisa dengan mudah kita klarifikasi dengan pertanyaan:
“Dari mana yakin pasti begitu?”
Kalimat-kalimat presupposition biasanya terlihat jelas dalam bentuk asumsi atau keyakinan yang menyiratkan kepastian yang solid, termasuk tahayul.
Cause/Effect
Pernyataan yang menjelaskan bagaimana sebuah stimulus spesifik bisa menyebabkan sebuah hubungan sebab-akibat karenanya.
Misalnya: “Gara-gara perbuatannya saya menderita.”
Ini adalah jenis kalimat yang menyiratkan bahwa karena sesuatu yang spesifik terjadi maka hal spesifik terjadi karenanya, padahal belum tentu hal itu demikian adanya, bisa jadi ada keterlibatan atau kelengahan kita sendiri yang tidak bisa kita akui sehingga kita dengan mudah menyalahkan pihak lain untuk menutupi kepahitan bahwa kita pun punya andil di dalam terjadinya masalah itu
Contoh pertanyaan yang bisa diguanakan:
“Bagaimana yang dia lakukan bisa membuat menderita? Apakah ini semua 100% karena perbuatannya atau ada kelengahan dan kecerobohan sehingga hal ini terjadi?”
Mind Reading
Pernyataan yang menyiratkan bahwa kita seolah bisa membaca pikiran orang lain dan persepsinya. Setali tiga uang dengan Presupposition, kalimat ini pun menyiratkan asumsi, hanya secara spesifik Mind Reading mengacu kepada prediksi atas pemikiran orang lain. Contohnya:
Klien: “Mereka tidak menyukai saya.”
Coach: “Bagaimana kamu mengetahuinya?”
Klien: “Cara memandang mereka seperti merendahkan.”
Anda tentu familiar dengan kalimat-kalimat di atas dimana seseorang berasumsi yang tidak-tidak pada persepsi orang lain atas dirinya dan mereka terjebak atas persepsi itu, mereka membuat drama sendiri dalam World Model tentang persepsi orang lain atas dirinya.
Complex of Equivalence
Terjadi ketika pemikiran menghubungkan dua hal atau lebih yang sebenarnya tidak berkaitan namun ketika dirangkai menjadi satu justru seolah menjadi benar adanya.
Contoh: “Dia tidak pernah menelepon, dia tidak menyayangi saya lagi.”
Mari kita Analisa, kejadian = tidak pernah menelepon, asumsi = tidak menyayangi lagi. Pertanyaannya, apa hubungannya antara tidak pernah menelepon dengan tidak menyayangi? Bukankah bisa ada kemungkinan lain yang bisa saja terjadi? Sibuk misalnya?
Kita bisa membongkar kalimat Complex of Equivalence ini dengan pertanyaan “Apa hubungannya (kejadian) dengan (persepsi)?”
Contoh dalam kalimat di atas diwakili dengan “Apa hubungannya tidak pernah menelepon dengan tidak sayang lagi?”
Bisa juga menindaklanjuti pertanyaan ini dengan membuka model dunia orang tersebut dengan menyodorkan beberapa opsi lain yang mungkin, misalnya dalam contoh di atas: “Bagaimana kalau ternyata dia sibuk? Bagaimana kalau ternyata dia sakit? Bagaimana kalau ternyata dia kehilangan nomormu?”
META MODEL IN ACTION
Jadi kapan dan bagaimana Meta Model digunakan? Sekali lagi, dengan memahami bahwa perlu kita sadari bahwa keyakinan adalah ‘mesin’ dari efektivitas diri kita, keyakinan inilah yang tercermin dalam ucapan kita dan begitu juga sebaliknya, perkataan kita semakin memperkuat keyakinan itu dalam diri, keduanya menjadi sebuah siklus.
Menggunakan Meta Model, kita hendaknya menjadi pribadi yang lebih mindful untuk menyadari bunyi keyakinan dalam diri sehubungan dengan 4 Pilar Keyakinan yang sudah dituliskan sebelumnya di artikel ‘4 Pilar Penyusun Kualitas Keyakinan‘. Mengapa saya katakan sebagai ‘bunyi keyakinan’? Karena keyakinan paling sering hadir dalam bentuk dialog internal (self talk).
Selepas kita menyadari bunyi dari pernyataan itu, barulah kita lakukan Meta Model pada pernyataan itu untuk mengevaluasinya ulang dan mendapatkan kejelasan akan sebuah pemikiran dengan lebih rasional agar bisa menstimulus state yang lebih baik.
Mari simak contoh penggunaan Meta Model dalam proses coaching untuk membuka model dunia seseorang dalam mempersepsikan masalah yang dihadapinya:
Klien: “Saya merasa semua teman saya tidak menghargai saya.”
Coach: “Hmm…menarik sekali, boleh kita perjelas dulu yang dimaksudkan sebagai ‘tidak menghargai’ ini seperti apa kiranya?”
Klien: “Ketika berdiskusi dan berbagi pendapat, mereka tidak pernah menanyakan pendapat saya dan langsung membuat keputusan.”
Coach: “Ooh, itu maksudnya. Oh iya, tadi Anda ada mengatakan mereka ‘tidak pernah’ menanyakan pendapat Anda, benar demikian? Sama sekali ‘tidak pernah’ sepanjang Anda bekerja bersama mereka?”
Klien: “Tidak juga Coach, memang ada kalanya mereka menanyakan pendapat saya ketika waktu memang cukup senggang.”
Coach: “Begitu ya, jadi tidak ‘setiap waktu’ juga ternyata ya?”
Klien: “Eh iya sih Coach…tidak setiap waktu, hanya memang cukup sering.”
Coach: “Seberapa ‘sering’ tepatnya?”
Klien: “Ya hanya ketika dikejar waktu tepatnya Coach.”
Coach: “Dan seberapa sering dikejar waktu itu terjadi selama ini?”
Klien: “Hmmm…tidak terlalu sering juga sih Coach agaknya, baru-baru ini saja semenjak jadwal kita memadat.”
Coach: “Oh iya, baik, jadi saya perjelas dulu ya bahwa yang kamu maksudkan ‘tidak menghargai’ tadi adalah bahwa mereka tidak menanyakan pendapat kamu dalam proses pembuatan keputusan, lalu di awal tadi kamu katakan bahwa ‘semua’ teman tidak menghargai, apakah betul ‘semuanya’ tidak menghargai.”
Klien: “Tidak semua juga sih Coach…sebagian besar.”
Coach: “Seberapa banyak ‘sebagian besar’ itu? Berapa anggota tim kerja?
Klien: “Hmm…dari delapan orang ada dua orang Coach yang cukup berpengaruh sehingga mereka mempengaruhi yang lain.”
Coach: “Jadi yang mana yang kamu maksudkan ‘sebagian besar’?
Klien: “Dua orang dan yang dipengaruhinya Coach.”
Coach: “Jadi tepatnya yang mana?”
Klien: “Yang dua orang Coach…”
Coach: “Bagaimana perasaan kamu mengetahui bahwa ‘bukan semua’ teman kamu yang tidak menanyakan pendapat kamu, melainkan hanya dua orang saja dan mereka juga tidak melakukan itu ‘setiap waktu’, melainkan hanya ketika dikejar tenggat waktu saja? Ada makna atau kemungkinan baru apa atas semua ini?”
Klien: “Berbeda rasanya Coach…lebih ringan mengartikannya.”
Jika Anda perhatikan petikkan percakapan di atas, bisa kita amati bahwa cara seseorang memandang situasinya berdasarkan internal processing filter dalam world model-nya sangat mempengaruhi persepsi dasarnya atas sebuah peristiwa, cara berpikir awal yang terbentuk dari generalization, distortion dan deletion tidak bisa dipungkiri mempengaruhi persepsi seseorang yang membentuk state-nya.
Ketika kalimat keyakinan hasil internal processing filter ini ‘diklarifikasi’ dan kita mencapai lapisan kesadaran dan pengetahuan yang lebih dalam dimana informasi dan pengalaman tersimpan lebih detail, kesadaran akan hal ini sering kali melahirkan persepsi atau pemikiran baru yang lebih ‘mencerahkan’, maka terbentuklah state yang lebih efektif pada akhirnya. Meski Anda melihat saya menggunakan kalimat itu pada orang lain di percakapan di atas, esensi yang sama bisa kita gunakan pada diri sendiri, dengan melatih diri untuk lebih menyadari self talk dalam diri (submodality auditory) yang merefleksikan keyakinan untuk kemudian mengaplikasikan Meta Model pada keyakinan itu.
Ingin mengetahui lebih jauh tentang NLP Coaching? Memerlukan layanan NLP Coaching untuk membantu Anda dan/atau kerabat Anda yang membutuhkannya? Atau ingin mempelajari NLP Coaching secara serius sampai bisa berpraktik secara profesional dan sistematis? Silakan menghubungi ke kontak yang tertera.