Episode 94 – Hidup Yang Lebih Terkendali
Ada orang-orang yang menjalani hidup yang “chaotic” tanpa terkendali, ada saja masalah yang menghantam mereka yang membuat mereka tidak bisa berkutik atas situasi.
Namun ada juga orang-orang yang berkebalikan, mereka memiliki pengaruh yang sedemikian besar untuk memengaruhi situasi, yang mereka ucapkan atau lakukan memiliki kendali lebih terhadap situasi.
Apa yang membedakan keduanya? Bagaimana menciptakan hidup yang lebih terkendali ini?
Mari simak bahasannya di Audio Podcast hari ini.
Anda bisa menemukan koleksi Audio Podcast Alguskha Nalendra di Podcast Channel ini, dan koleksi podcast tersebut dalam bentuk video-audiogram di Youtube Channel Alguskha Nalendra.
Berikut di bawah ini adalah transkrip dari Episode kesembilan puluh empat Life Restoration Podcast berjudul ‘Hidup Yang Lebih Terkendali’ di atas, silakan klik tulisan di bawah untuk memunculkan transkrip.
Hidup Yang Lebih Terkendali
Daftar Isi
Intro:
Anda sedang mendengarkan Life Restoration Podcast dari Alguskha Nalendra, episode sembilan puluh empat.
Selamat datang di Life Restoration Podcast, inspirasi restorasi kehidupan dan transformasi diri untuk membantu mendesain kehidupan terbaik yang layak Anda dapatkan sesuai jati diri otentik Anda.
Life Restoration Podcast menghadirkan berbagai inspirasi restorasi kehidupan dan transformasi diri, yang juga diadaptasi dari kisah nyata para individu yang menjalani program terapi, konseling dan Life Restoration Coaching, bersama Coach Alguskha Nalendra.
Podcast:
Halo para sahabat sekalian dimana pun Anda berada … berjumpa kembali di Life Restoration Podcast, episode 94 kali ini, seperti biasa, bersama saya Alguskha Nalendra.
Seperti biasa juga, mengawali podcast ini, doa terbaik untuk Anda semua, semoga selalu dalam keadaan sehat, berkah-berlimpah dan damai-berbahagia dimana pun Anda berada, bersama mereka yang Anda kasihi.
Di episode kali ini, saya ingin mengangkat sebuah fenomena tentang dua jenis kehidupan, yang dijalani oleh dua jenis manusia, yang berbeda sikap.
Ya perbedaan sikap ini juga yang sebenarnya melahirkan perbedaan dua jenis kehidupan yang dijalani ini. Yang satu, kehidupan yang terkendali, dan satu lagi, kehidupan yang tidak terkendali.
Sesuai dengan judul episode kali ini, fokus bahasan kita adalah seputar kehidupan yang terkendali, atau tepatnya cara menciptakan kehidupan yang lebih terkendali.
Kalau begitu, apa yang dimaksud kehidupan yang terkendali dan tidak terkendali ini? Kita mulai saja membahasnya ya.
Ada orang-orang yang kehidupannya sedemikian tidak terkendali. Mereka menjalani kehidupan yang chaotic kalau istilah Bahasa Inggrisnya. Berbagai hal berjalan dengan sedemikian kacau-balau, dan berantakan. Awut-awutan kalau istilah tidak resminya he … he …
Yang berantakan ini juga terbagi lagi atas dua hal, berantakan di dalam diri, dan berantakan di luar diri.
Berantakan di luar diri ini maksudnya berbagai hal terjadi di luar diri mereka dengan sedemikian kacaunya, ada saja masalah yang terjadi, yang menghantam mereka dari berbagai arah.
Kehidupan berjalan tidak sebagaimana yang mereka harapkan dan sedemikian tidak terkendali.
Tidak jarang, orang-orang yang mengalami hal ini juga mengalami hantaman psikis yang tidak sedikit. Mereka sedemikian terpengaruh oleh situasi. Apa-apa yang berlangsung di luar diri mereka mempengaruhi mereka dengan sebegitu dahsyatnya, sampai mereka jadi berantakan juga di dalam diri mereka.
Saya menyebut orang-orang ini sebagai “orang-orang yang dipengaruhi situasi”.
Arti dari “dipengaruhi situasi” di sini yaitu mereka adalah orang-orang yang bergantung pada apa yang terjadi di luar diri mereka.
Kalau yang terjadi di luar diri mereka sesuai harapan, baru mereka merasa aman, nyaman dan bahkan senang. Tapi sebaliknya, kalau yang terjadi di luar diri mereka tidak sesuai harapan maka mereka juga merasa takut, cemas dan bahkan panik. Artinya, kondisi dalam diri mereka dipengaruhi oleh situasi di luar diri mereka.
Jangan salah, saya tidak mengatakan mereka yang berada di kondisi ini salah lho. Bukan hanya banyak yang mengalami hal ini, bahkan hal ini termasuk manusiawi.
Bagaimana pun juga sebagai manusia kita memiliki naluri bertahan hidup atau naluri survival, yang menjadikan kita memiliki naluri alami untuk mengamati situasi di luar diri kita dan merespon situasi itu berdasarkan apa arti dari situasi itu bagi diri kita.
Jika kita mencermati sebuah situasi dirasa “mengancam” misalnya, ya mengancam ini termasuk di antaranya “tidak menyenangkan”, maka kita juga akan mengeluarkan respon untuk menyikapi ancaman itu. Respon ini bisa merupakan respon yang bersifat melawan ancaman, atau fight, bisa juga yang bersifat menghindari ancaman, atau flight. Reaksi ini juga yang sering kali muncul dengan disertai lonjakan emosi negatif, seperti rasa takut, marah, panik, dan sebagainya.
Tapi terlepas dari semua kealamian itu, atau bagaimana hal-hal itu bersifat wajar, alami dan manusiawi, tidak semua orang dikendalikan oleh respon itu. Ada beberapa orang yang lebih bisa mengendalikan respon bertahan hidup itu. Meski sama-sama tetap mengalami lonjakan reaksi survival ketika dihadapkan dengan situasi yang tidak menyenangkan, ekspresi dari reaksi survival itu lebih bisa mereka kendalikan. Mereka tidak begitu saja dikendalikan oleh reaksi emosi yang biasa dialami oleh orang lain pada umumnya. Meski reaksi emosi itu tetap ada, tapi mereka lebih bisa mengendalikan diri mereka sehingga tidak terbawa oleh reaksi emosi itu. Kita mengenal mereka sebagai pribadi yang “lebih punya kendali diri yang baik”.
Nah, maka kita sudah mulai beralih bahasan kali ini, kali ini kita membicarakan pribadi yang kedua, yaitu pribadi yang hidupnya lebih terkendali.
Kehidupan yang lebih terkendali ini juga kita bagi menjadi dua, terkendali di dalam diri, dan terkendali di luar diri.
Arti dari terkendali di dalam diri yaitu seperti yang baru saja kita bahas, mereka memiliki kendali yang lebih baik atas diri mereka. Meski tetap saja sebagai manusia reaksi emosi yang dipengaruhi reaksi survival itu tetap ada, tapi setidaknya mereka lebih bisa mengendalikan diri atas lonjakan reaksi itu.
Kendali diri orang-orang ini sering kali jelas sekali terlihat oleh lingkungan di luar diri mereka. Dari luar, mereka bisa nampak tenang, dan ada kalanya biasa saja, hal ini yang membuat lingkungan juga menilai mereka sebagai pribadi yang lebih punya kendali, maka tidak heran kalau lingkungan juga jadi lebih percaya pada mereka.
Nah, hal ini menjadi petunjuk tidak atas bagaimana kehidupan di luar diri mereka jadi lebih bisa terkendali?
Yes, karena lingkungan pun lebih percaya pada mereka, memandang mereka sebagai pribadi yang punya kendali lebih, maka tidak heran kalau orang-orang ini juga punya pengaruh yang tinggi atas lingkungan. Apa yang mereka lakukan berdampak, atau membawa pengaruh lebih, pada lingkungan dimana mereka berada.
Karena yang mereka lakukan membawa pengaruh lebih, maka mereka pun lebih bisa menciptakan kehidupan yang lebih sesuai dengan yang mereka harapkan, karena ada pengaruh yang bisa mereka gunakan untuk mempengaruhi dunia di luar dirinya, mereka inilah yang saya katakan menciptakan kehidupan yang terkendali, atau setidaknya, lebih terkendali dibandingkan mereka yang tidak punya pengaruh apa pun atas hidupnya.
Orang-orang ini juga yang saya sebut sebagai “orang-orang yang mempengaruhi situasi”. Mereka tidak dipengaruhi situasi yang terjadi di luar diri mereka, tapi justru bisa mempengaruhi situasi di luar diri mereka.
Dalam profesi yang saya jalani, saya bertemu dengan beragam klien dari berbagai jenis kalangan. Di sinilah saya juga di beberapa kesempatan bertemu dengan “orang-orang yang mempengaruhi situasi” ini. Ada kesamaan di antara mereka. Mereka adalah orang-orang yang dihadapkan dengan banyak persoalan di sekitar mereka.
Ada yang dihadapkan dengan keterpurukan dalam bisnis dan konflik keluarga tapi kemudian bangkit dan menyelesaikan satu-persatu permasalahan yang mereka alami itu, sampai kemudian mencapai puncak kejayaannya.
Ada juga yang dihadapkan dengan permasalahan yang luar biasa kompleks di organisasi yang mereka pimpin. Berbagai konflik dan masalah harus mereka hadapi. Sedemikian rumitnya situasi yang ada sampai-sampai banyak orang lain yang kalau dihadapkan dengan situasi yang sama, sudah mundur dan menyerah. Tapi orang-orang yang mempengaruhi situasi ini tidak menyerah, mereka terus teguh dalam yang mereka perjuangkan, sampai mereka bisa mempengaruhi situasi yang ada, menyelesaikan permasalah demi permasalahan, sampai bisa memutarbalikkan situasi dan pada akhirnya menciptakan kondisi ideal yang mereka harapkan.
Bagaimana bisa orang-orang yang dihadapkan dengan permasalahan yang ekstrim ini justru bisa memutarbalikkan situasi dan menciptakan kondisi ideal, di tengah situasi yang ketika dialami oleh banyak orang, telah membuat banyak orang menyerah?
Karena saya beruntung bisa bertemu dengan mereka, maka kesempatan ini tentu saya gunakan untuk berbicara dengan mereka, untuk mencari tahu apa yang membuat mereka bisa sampai menjadi pribadi yang mempengaruhi situasi itu.
Hasil pembicaraan itu yang saya rangkum dalam episode kali ini, ke dalam tiga pesan penting: satu, ambil sikap bertanggung jawab atas yang terjadi. Dua. fokus pada apa yang bisa kita kendalikan. Tiga, temukan apa yang bisa kita kendalikan di balik setiap situasi dan fokuslah meningkatkan kualitas kendali kita, sampai kendali kita bisa mempengaruhi situasi.
Nah, kita coba bahas satu-persatu secara singkat ya. Sebagai catatan, setiap poin yang ada dari ketiga poin ini menjadi pijakan bagi poin berikutnya. Artinya, urutannya dimulai dari poin kesatu dulu, lanjut kedua, dan ketiga, itu urutan baku yang tidak bisa dilangkahi.
Pertama, ambil sikap bertanggung jawab atas yang terjadi. Saya mendapati satu ciri yang sama yang dimiliki orang-orang yang mampu mempengaruhi situasi, mereka tidak menyalahkan keadaan. Mereka melakukan sikap bertanggung jawab atas yang terjadi.
Misalnya, salah satu top sales yang saya temui, seorang tenaga penjualan yang kualitas penjualannya luar biasa, sampai menembus rekor internasional. Ketika ia dihadapkan dengan prospek, atau calon pembeli, yang belum mau membeli produknya, ia tidak menyalahkan calon pembeli yang mungkin oleh sales lain dianggap “rese” karena tidak mau membeli produk. Ia fokus bertanggungjawab atas situasi, bahwa penjualan tidak terjadi bukan karena calon pembeli tidak mau membeli, tapi karena ia yang belum bisa meyakinkan calon pembeli.
Perhatikan, kalimatnya sederhana lho, “Penjualan tidak terjadi, bukan karena prospek tidak mau membeli, tapi karena saya belum bisa meyakinkan prospek,” itu menurutnya. Itu satu pemikiran yang bagi saya luar biasa. Ia tidak menyalahkan apa pun, tidak menyalahkan situasi, ia menempatkan dirinya sebagai pusat dari situasi, sebagai “penyebab dari situasi”.
“Penjualan tidak terjadi karena saya belum bisa meyakinkan prospek,” dengarkan kalimat itu, ia menempatkan diri sebagai pusat atau penyebab dari situasi, bukan sebagai korban atau sebagai akibat dari situasi.
Di sisi lain, ada saja orang-orang yang ketika dihadapkan dengan masalah malah sibuk mengeluh, meratap dan menyalahkan. Orang-orang jenis ini yang kemudian menjadi korban dari situasi. Mereka tidak bisa mengubah situasi karena memang situasilah yang mempengaruhi respon mereka. Bukan mereka yang menjadi pusat atau sebab dari situasi.
Sederhananya begini. Di balik apa pun yang terjadi, kita selalu punya pilihan, ingin menempatkan diri sebagai korban dari situasi, atau sebagai sebab dari situasi.
Menempatkan diri sebagai korban dari situasi menjadikan kita tidak bisa melakukan apa pun, karena yang terjadi di luar diri kitalah yang menentukan respon diri kita, bukan diri kita yang mempengaruhi yang terjadi. Dengan menjadikan diri kita “sebab dari situasi” kita tahu bahwa situasi jadi seperti itu karena kitalah yang menyebabkannya begitu. Karena kita yang menyebabkannya maka kita juga yang bisa mengubahnya.
Berikutnya, poin kedua, temukan apa yang bisa kita kendalikan. Ini masih kelanjutan dari yang pertama tadi ya. Kita sudah bertanggung jawab atas situasi. Kita tidak menyalahkan siapa pun. Kita menempatkan diri sebagai sebab dari situasi, maka kali ini kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubah situasi, yaitu dengan mengubah yang bisa kita kendalikan.
Untuk itu, pertama-tama kita dulu yang harus menemukan apa yang bisa kita kendalikan di dalam situasi yang sedang berlangsung. Misalnya kembali ke kisah top sales yang saya temui. Ia sudah bertanggung jawab atas situasi dengan menempatkan dirinya sebagai penyebab kalau penjualan belum terjadi. Di sini ia juga merumuskan bahwa yang bisa ia kendalikan adalah upayanya dalam melakukan penjualan, sementara yang tidak bisa ia kendalikan adalah keputusan prospek untuk membeli.
Mengapa menemukan hal yang bisa kita kendalikan ini penting? Karena ia berhubungan dengan poin ketiga dan yang terakhir, yaitu fokus meningkatkan kualitas kendali kita, sampai level kendali kita bisa mempengaruhi situasi.
Kembali ke kisah top sales tadi ya. Ia sudah menyadari bahwa yang bisa ia kendalikan adalah upayanya dalam melakukan penjualan, sementara yang tidak bisa ia kendalikan adalah keputusan prospek untuk membeli. Karena ia sudah tahu apa yang bisa ia kendalikan dan yang tidak bisa ia kendalikan, maka kali ini ia lebih fokus pada apa yang bisa ia kendalikan, yaitu upayanya dalam menjual.
Ia terus belajar meningkatkan kualitas penjualannya, ia terus belajar dari pengalaman demi pengalaman menjual produk dan layanannya, sampai cara menjualnya sedemikian luar biasa dan mempengaruhi para prospek yang semula tidak mau membeli, jadi mau membeli.
Lihat, padahal keputusan pembelian prospek adalah sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Tapi dengan fokus pada apa yang bisa ia kendalikan, ia jadi bisa mempengaruhi situasi yang sebelumnya tidak bisa ia kendalikan. Ini yang disebut “pribadi yang mempengaruhi situasi”.
Hal yang sama terjadi dalam kehidupan ini. Apa pun ragam jenis situasi atau masalah yang kita alami dalam hidup ini, kunci untuk mengendalikan situasi tetap sama, yaitu bertanggung jawab atas yang terjadi, menemukan yang bisa kita kendalikan, dan fokus memperbaiki yang bisa kita kendalikan sampai ia mempengaruhi situasi, menjadikannya lebih sesuai dengan yang kita harapkan.
Mereka yang hidupnya tidak terkendali mengalami berbagai kekacauan itu karena mereka fokus pada apa yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka sibuk menyalahkan keadaan dan berharap-harap keadaan di luar diri mereka tiba-tiba berubah secara ajaib tanpa mereka harus melakukan hal apa pun secara signifikan. Alhasil, keadaan terus bergulir seperti efek bola salju dan menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu.
Ingin menciptakan hidup yang lebih terkendali? Fokuslah pada apa yang bisa kita kendalikan. Jadikan yang bisa kita kendalikan itu sedemikian kuat sampai-sampai ia bisa mempengaruhi situasi secara positif.
Sampai jumpa di episode berikutnya….
Closing Podcast:
Dapatkan lebih banyak inspirasi restorasi kehidupan dan transformasi diri dengan ikuti Instagram @alguskha dan Youtube Channel: ‘Alguskha Nalendra’.
Kunjungi juga website www.alguskha.com untuk temukan lebih banyak informasi menarik lainnya, termasuk untuk memesan layanan profesional bersama Coach Alguskha Nalendra, untuk membantu mendesain kehidupan terbaik yang layak Anda dapatkan sesuai jati diri otentik Anda.